Ini Bangsamu

Friday, October 27, 2006

Katakan Tidak! (Pada Masjid Berkubah Emas)

..dan dengan marmer Italia. Dan entah apa lagi yang mereka tambahkan di situ.

Kabar tentang masjid berkubah emas pertama kali saya dengar dari televisi. Saat itu, presenter hanya sekilas menyebutkan tentang keberadaannya sebelum kemudian acara diselingi oleh iklan. Saya refleks menebak kalau masjid ini pastilah ada di Istanbul, atau di suatu tempat di negara Timur Tengah yang kaya-raya. Berupa peninggalan zaman lampau yang kini menjadi tempat wisata rohani. Betapa salahnya saya.

Masjid (baru) ini ada di Bogor.

Ya, Bogor yang Kota Hujan itu. Bogor. Indonesia.

Sampai saat ini belum diketahui siapa penyandang dana pembangunan Dian al-Mahr, masjid supermewah yang baru akan diresmikan awal tahun depan ini. Dan bukankah sulit membayangkan? Ini Indonesia, teman. Salah satu negara termiskin di dunia. Secara ekonomi, edukasi, semuanya.

Pertanyaan pertama, tidakkah ini berlebihan? Untuk apakah semua kemewahan ini?

Sebagai tempat beribadah, masjid hanya merindukan kedatangan mereka yang ingin dekat dengan Tuhannya. Tidak ada satu masjid-pun di dunia ini yang membutuhkan kubah-kubah emas sebagai hiasannya.

Dengan dalih apakah engkau membangun semua ini? Apakah engkau bermaksud mengatakan bahwa semua ini untuk kebanggaan kaum Muslim? Ataukah engkau merasa prihatin dengan kurangnya kecintaan kaum Muslim pada masjid, dan semua kemewahan ini adalah upaya untuk mengundang mereka?

Karena jika semua ini demi kebanggaan, aku tidak pernah mendengar Rasulullah memerintahkan pembuatan masjid berkubah emas. Dan aku tidak pernah mengenal orang yang lebih peduli terhadap kaum Muslim (termasuk kebanggaannya) daripada Rasulullah Muhammad. Aku lebih dapat membayangkan betapa gusarnya beliau jika mengetahui tentang ini, kawan, aku tidak yakin Rasulullah akan ridha.

Karena jika semua ini demi menarik kaum Muslim untuk datang, ketahuilah bahwa mereka akan datang karena sensasi yang engkau timbulkan. Bukan mereka yang datang dengan tulus karena kecintaan pada masjid. Karena aku berani bersumpah dengan pengetahuanku, kaum muslim manapun yang mencintai masjid akan tetap datang sekalipun atap masjidnya dedaunan, sekalipun lantainya berupa tanah berlapis plastik yang hanya menutup separuh ruangan.

Dan, bukankah ini semua sangat, sangat tidak sensitif?

Berapa banyak orang miskin di sekitarmu, kawan? Berapa banyak orang dengan penderitaan yang lebih membutuhkan uluran tanganmu? Saat mereka kelaparan, tak akan ada artinya sebanyak apapun kubah emas yang dapat kaubuat dan dapat mereka lihat. Semahal apapun marmer Italia yang dapat kauimpor.

Ini adalah kesalahan besar, saudaraku. Berpikirlah.

Labels:

Saturday, September 23, 2006

Para Pedagang Paling Terkutuk di Dunia Berjualan Ramadhan

Ramadhan tahun ini adalah kali pertama saya merasa jijik dengan beragam tayangan bernuansa Ramadhan yang bermunculan di TV. Omong kosong itu semua. Semua iklan tentang makanan, minuman, acara-acara TV khusus bulan Ramadhan, sinetron yang tiba-tiba semua aktornya berpakaian muslim/muslimah dan tahu-tahu fasih melafalkan istighfar, Tamara pakai jilbab, Vena Melinda tampil di acara keislaman di TransTV tadi pagi.

Omong kosong besar itu semua.

Izinkan saya untuk jadi emosional di sini. Seseorang, um, bukan, banyak orang di bangsa ini mencoba menjual Ramadhan. Dan hati ini adalah hati seorang Muslim, bagaimanapun juga. Saya muak dan benci.

Saya tidak muak dengan isi dan pesan yang disampaikan. Hikmah dan ajaran agama, kapanpun itu, adalah baik. Namun alasan kemunculannya, itulah yang terasa busuk.

Di mana kalian semua sebelas bulan semuanya? Pernahkah kalian berkata sesuatu tentang puasa-puasa yang lain, puasa Daud dan Senin-Kamis, misalnya? Pernahkah kalian berkata sesuatu tentang Tahajud? Dan, Ya Allah, pernahkah kalian berkata sesuatu tentang shalat fardhu yang lima tiap harinya?

Tidak, demi Allah. Bagi kalian, hanya Ramadhan yang mendatangkan iklan, yang mendatangkan pendapatan, yang mendatangkan ketenaran.

Maka, dengar ini: aku tidak butuh kalian untuk menemani sahurku, untuk menemani bukaku, untuk menemani tarawihku, untuk menemani Idul Fitriku, untuk menemani silaturahmiku, untuk menemani Ramadhanku. Pergilah kalian dan omong kosong besar ini.

Di mana kalian sebelas bulan belakangan, saat ibadah-ibadah yang lain tidak mendatangkan banyak Rupiah?

Labels: